Home
  • Home
  • Lifestyle
  • Cerita Dibalik Spanduk Ngejreng Warung Pecel Lele Lamongan

Cerita Dibalik Spanduk Ngejreng Warung Pecel Lele Lamongan

6 November 2018 Lifestyle


Nggak pernah terpikir kalau di balik spanduk pecel lele dan ayam bertulis “khas Lamongan” yang tersebar di berbagai tepi jalan itu ternyata punya cerita tersendiri. Spanduk, yang rata-rata berwarna ngejreng dan ‘norak’ itu faktanya berfungsi bukan cuma penanda dagangan, tapi juga karya seni, bentuk komunikasi non-verbal, sampai identitas sosial dan budaya si pemiliknya. Spanduk pecel lele yang khas Lamongan itu pun punya kisah lebih dari tiga dekade, mengalami evolusi seni tapi masih bertahan dengan identitas kedaerahan yang kental. Spanduk ngejreng itu juga menyuarakan kebanggaan tentang asal-usul, menarik sesama latar belakang, serta faktor datangnya uang.

Alkisah, menu pecel ayam dan lele baru muncul di Lamongan di akhir dekade ’70-an. Sebagai barang dagang, menu ini hit di dekade ’80-an. Perkembangan ini membawa dampak lain, yaitu merebaknya spanduk warung pecel yang berfungsi sebagai penutup dan penanda. Tapi uniknya, perkembangan spanduk pecel ini punya pola yang khas, yaitu dengan gaya dan pewarnaan yang sama tanpa sengaja. Seolah, masyarakat Lamongan saat itu satu jiwa satu pemikiran.

“Era 1990-an sudah banyak yang punya rasa seni. Ada yang enggak bisa sama sekali sampai bisa, ada yang memang suka gambar. Seperti saya suka gambar sejak sekolah,” kata Hartono, salah seorang pembuat spanduk pecel Lamongan sejak 1994.

Hartono sendiri awalnya pedagang pecel lele yang gantung wajan tahun 2008 saat pendapatan dari spanduk pecel ternyata jauh lebih menggiurkan, mulai dari belasan sampai puluhan juta rupiah per bulan. Ada Cerita di Balik Spanduk Pecel Lamongan yang Ngejreng. Kalau bisa dirangkum, spanduk pecel khas Lamongan punya ciri menggunakan warna hijau muda, oranye, kuning, dan jambon; nama warung di bagian atas punya tiga gradasi warna: merah, oranye, kuning; ada bordir bingkai di tepi spanduk; dan mutlak punya gambar hewan sesuai menu makanan.

Pun spanduk pecel Lamongan punya ciri khas yaitu dilukis. Sebenarnya ada pula spanduk pecel asal Brebes yang sama-sama dilukis, tapi bedanya dengan Lamongan adalah mayoritas spanduk Brebes nggak ada gambar hewan dan cuma menggunakan warna merah dan juga biru. Seiring dengan berjalannya waktu, spanduk pecel ini menyebar ke seluruh Indonesia dan dibuat sama beragam orang, tapi masih punya ciri yang sama dan jadi ikon tersendiri. Kesadaran ikon itu juga disadari sama desainer lini busana Kamengski, Sulaiman Said yang kemudian mengangkatnya jadi koleksi khusus karyanya. Peminatnya pun banyak. Walau dianggap sudah menjadi ikon tersendiri, akademisi komunikasi visual Universitas Padjadjaran, Sandi, meragukan spanduk tersebut adalah khas dan identitas Lamongan. Tapi, Sandi nggak menampik kalau kemunculan spanduk pecel Lamongan ini menunjukkan kecerdasan budaya dari masyarakat kota di Jawa Timur tersebut. Apalagi nyaris semua pengrajin belajar secara autodidak.

Keunikan spanduk pecel Lamongan ini sejatinya adalah bukti kalau masyarakat Indonesia punya rasa seni dan budaya yang tinggi, dan melekat dalam kehidupan sehari-hari dengan sederhana namun penuh makna, seperti kenangan lezatnya pecel lele dan ayam dari Lamongan.

Related Post


, , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 1 =