Home

Efek “Phubbing” Dalam Kehidupan Sosial

10 July 2018 Lifestyle


Terlalu asyik sama gadget dan nggak “peduli” dengan lingkungan sekitar ternyata bisa memunculkan rasa benci dan cemburu. Situasi itu disebut “phubbing” atau situasi dimana kita merasa diabaikan sama lawan bicara kita karena mereka lebih memilih sibuk sama gadgetnya. Menurut ahli, situasi ini nggak bisa dianggap enteng karena bisa membahayakan kehidupan sosial mendasar kita. Misalnya kurang menghargai diri sendiri dan hilangnya rasa memiliki. Dampak phubbing tersebut terungkap dalam sebuah penelitian terbaru di jurnal Applied Social Psychology. Penelitian tersebut menyatakan, 9 dari 10 perempuan di Amerika sebagian besar menggunakan gadget dalam aktivitas harian mereka. Artinya, phubbing sudah jadi hal yang sangat umum di Amerika.

Varoth Chotpitayasunondh dan Karen Douglas, ilmuwan dari Universitas Kent di Amerika yang mengamati efek dari phubbing. Mereka meneliti 128 remaja perempuan di Amerika yang berusia rata-rata 19 tahun. Dalam penelitian ini, para ahli meminta peserta untuk menonton film animasi berdurasi tiga menit dan peserta membayangkan diri mereka sedang berinteraksi langsung dengan tokoh di film tersebut. Peserta cuma bisa membaca gerak bibir si tokoh dalam film dan nggak mendengar apa yang mereka ucapkan. Para ahli menerapkan tiga situasi, pertama adalah tokoh di dalam film nggak menggunakan gawai selama percakapan. Kedua, perhatian tokoh film beralih ke gawai dan menghabiskan percakapan dengan peserta sambil bermain dengan gawai mereka. Terkadang secara berkala tertawa dan tersenyum ketika melihat sesuatu di gadget. Lalu yang terakhir adalah tokoh di film tetap terlibat dengan peserta yang sedang “diabaikan” dan terkadang di selingi interaksi tanpa gadget. Lalu, para peserta diminta untuk menilai tentang percakapan dan bagaimana perasaan mereka saat mengalami interkasi sosial seperti itu. Hasilnya, 128 peserta menganggap interaksi sosial mereka semakin memburuk seiring dengan bertambahnya situasi “phubbing”, baik secara kualitas atau makna hubungan sosial mereka.

Para ahli meyakini, “phubbing” mengakibatkan pengucilan sosial, mirip dengan situasi saat bikin orang lain cuma makan sendirian di kantin atau nggak membalas telepon orang lain. Situasi ini cuma terjadi ketika ada dalam interkasi sosial secara langsung, artinya saat bertatap muka atau setidaknya secara nggak sengaja bertemu dan berinteraksi. Meski begitu, Chotpitayasunondh dan Douglas mengarisbawahi kalau pembuktian mereka tentang “phubbing” nggak serta merta mencegah norma lainnya, seperti pelecehan dari orang lain. Para ahli menyarankan untuk penelitian lebih lanjut terkait mekanisme sosial tersebut. Dikutip dari Digest.bps.org, penemuan tersebut cuma menguraikan pemahaman kita tentang dampak “phubbing” di dalam aktivitas kita sehari-hari dan terkadang kita nggak menyadarinya.

Related Post


, , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

75 + = 81