Home

Gatsbying, Teknik PDKT Lewat Sosial Media

16 April 2019 Lifestyle


Bukan rahasia lagi, media sosial sudah mengubah cara kita berkencan dan mencari pasangan. Nggak ada lagi hari-hari kita mengirim SMS buat si “gebetan” atau surat cinta buat menyatakan perasaan ke orang yang kita taksir. Kita cukup mengunggah foto selfi di media sosial abis itu dikasih kutipan lucu, dan menunggu respon si dia di kolom komentar. Para ahli menyebut fenomena ini dengan nama ” Gatsbying”. Lalu, apa alasan seseorang melakukan ini? Apakah ada dampak negatifnya? Kemungkinan besar kita mungkin nggak sadar melakukannya, baik melalui unggahan di Instagram atau Snapchat story, dengan harapan supaya orang yang kita taksir menyukai atau berkomentar pada unggahan kita. Cara ini sama sekali berbeda dengan sekedar mengunggah foto demi mengundang ribuan orang untuk menyukainya.

“Gatsbying” adalah caara yang ditargetkan untuk memenangkan hati satu orang tertentu. Menurut pakar kencan Julie Spira, orang melakukan ini untuk menyamarkan kalau dirinya sedang berusaha “menggaet” orang yang disukainya. “Mengunggah foto terbaikmu, gambar tempat yang kita tahu si dia bakal menyukainya, atau hidangan favoritnya adalah cara pasif untuk mendapatkan perhatiannya,” ucapnya.

Teknik pendekatan ini juga jadi cara terbaik untuk mengetahui minat si dia kepada kita tanpa takut mengalami penolakan. Ini sangat masuk akal. Entah orang yang kita taksir bereaksi terhadap unggahan itu, kita bisa menyampaikannya sebagai unggahan publik dengan meminimalisir dampak negatifnya pada emosional kita. Tentu, mungkin mengecewakan kalau mereka nggak suka atau nggak mengomentarinya. Tapi, jauh lebih mudah untuk menerimanya daripada saat tahu dia nggak merespon perasaan kita lewat pesan pribadi.

Pada dasarnya, kita semua pengecut, terutama dalam hal cinta. Ini mungkin terlihat seperti cara yang lebih mudah untuk mendekati gebetan tanpa risiko penolakan. Tapi, Spira mengatakan ada beberapa faktor yang bikin ” gatsbying” memberi dampak negatif. Menurutnya, “gatsbying” terlalu menekankan pada makna di balik interaksi lewat media sosial. Ini bikin kita bakal tergantung pada media sosial cuma demi memastikan perasaan gebetan. Cuma karena seseorang menyukai unggahan kita bukan berarti dia juga tertarik pada kita.

“Ini dapat memberi perasaan palsu bahwa seseorang tertarik pada kamu,” kata Spira.

Spira juga mengatakan, kurangnya respon seseorang pada unggahan kita bukan berarti dia nggak tertarik sama kita. Kalau kita melakukan banyak upaya untuk mendapatkan perhatian orang yang kita sukai dan tidak ada respon darinya, ini berpotensi menjadi bumerang dan memicu rasa tidak aman tentang perasaan si dia. Padahal, perasaan semacam ini bukan hal yang penting. Si dia bisa saja juga tertarik pada diri kita, cuma ia nggak melihat unggahan kita. Kalau si dia nggak terlalu aktif di media sosial, bisa jadi usaha ini cuma sia-sia belaka. Menurut Spira, orang sangat sering menggunakan Gatsbying untuk merayu mantan mereka supaya kembali ke pelukan. Atau, mereka cuma ingin membuktikan kepada sang mantan tentang betapa hebatnya kehidupan mereka saat ini.

“Mereka yang putus cinta menggunakan metode ini untuk tetap terhubung dengan mengunggah foto yang tampak luar biasa saat berlibur, atau di tempat yang biasa mereka kunjungi bersama mantan mereka,” ucap Spira.

Menurutnya, ini semua bertujuan untuk melihat apakah sang mantan masih peduli atau masih menyimpan harapan untuk kembali bersama. Lalu, apakah teknik ini benar-benar efektif untuk mendekati gebetan? Kalau kita ingin memikat gebetan dengan perlahan jadi bagian dari hari mereka lewat media sosial, kata Spira, ini mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan kepastian. Bisa jadi, ini cuma bikin kita cuma terjebak di zona pertemanan atau friend zone. Sering mengunggah foto demi menarik perhatian sang gebetan bisa saja membuatnya punya perasaan yang sama.

Dengan kata lain, gatsbying memang menawarkan kesempatan untuk menarik perhatian orang yang kita sukai dan mungkin mengisyaratkan kemungkinan si dia untuk menyukai kita. Tetapi, kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Gatsbying bisa memberi kita harapan palsu, atau sebaliknya, persepsi yang nggak akurat tentang perasaan si dia. Bagaimanapun juga, media sosial bukan media yang tepat untuk mengukur perasaan seseorang dengan akurat. Kita mungkin juga nggak menunjukan rasa suka atau komentar di unggahan si dia. Jadi, kemungkinan besar orang yang kita taksir juga nggak melakukannya. Tapi, selama kita bisa mengatur harapan kita, nggak ada salahnya untuk melakukan teknik ini. Kalau cara ini bisa memberi kita dorongan kepastian yang kita butuhkan untuk bisa membangun keberanian menyatakan perasaan kepadanya, maka lakukanlah. Mungkin kita belum punya nyali yang tinggi untuk menyatakan perasaan kita secara langsung. Tapi, cara ini bisa membantu kita untuk membangun keberanian dan lebih menyakinkan perasaan kita. Satu hal yang harus kita pahami, teknik pendekatan semacam ini juga bisa mengarah pada keyakinan diri tentang perasaan si dia. Nggak ada hal yang tanpa risiko di dunia ini. Kita harus menerima dan bersiap dengan segala konsekuensi akan pilihan kita.


, , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

72 − 63 =