Home

Kontroversi Cuci Otak Untuk Obati Stroke

5 April 2018 Lifestyle


Kontroversi soal terapi cuci otak atau brain wash dr.Terawan Agus Putranto happening banget beberapa hari terakhir. Apalagi, setelah dokter spesialis radiologi dari RSPAD Gatot Subroto itu diberhentikan sama Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sebelumnya, Terawan mengaku, terapinya ini memberikan hasil yang bagus kepada pasien.

Ternyata, sebelum pemberhentian oleh MKEK IDI, terapi yang dicetuskan sama dr.Terawan sudah lama mengundang pro dan kontra. Salah satunya dari Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi). Di tahun 2012, Ketua Umum Perdossi Prof M Hasan Machfoed mempertanyakan terapi cuci otak tersebut untuk penderita stroke. Hal ini diungkapkan pada pembukaan Pertemuan Ilmiah Nasional Stroke di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/11/2012).

Prosedur Waktu Menurut Hasan, pada terapi cuci otak, terapis memasukkan obat ke pembuluh darah otak penderita stroke. Dalam dunia kedokteran, proses itu disebut trombolisis yang punya prosedur batas waktu ketat. Dalam panduan, trombolisis bisa diberikan sampai 8 jam setelah penderita terkena stroke. Tapi, kalau terapi itu diberikan pada pasien yang dapet serangan sudah lebih dari 8 jam, apalagi berbulan-bulan atau bertahun-tahun, bisa menimbulkan masalah. Kontroversi ini nggak berhenti pada tahun 2012 saja. Menurut laporan yang ada di tahun 2014, para ahli saraf berpendapat, terapi cuci otak nggak bisa mengobati penyakit stroke. Itu karena alat yang digunakan pada terapi ini sebenarnya untuk melakukan diagnosis saja. Alat yang dipakai dalam terapi cuci otak dokter Terawan adalah Digital Substracion Angiography (DSA). Prosedur DSA menggunakan kontras untuk memperjelas gambaran pembuluh darah. Saat prosedur ini dilakukan, pasien diberikan obat heparin untuk mencegah pembekuan darah selama prosedur. Melalui DSA, kelainan pembuluh darah di otak bisa diketahui. Setelah itu, pasien bakal dikasih terapi atau pengobatan yang sesuai dengan kelainannya. Menurut Hasan, penggunaan dasar DSA sebagai alat terapi stroke harus dibuktikan terlebih dahulu secara ilmiah.

“Dari segi etika kedokteran, tidak dibenarkan (penggunaannya tanpa pembuktian ilmiah). Kode etik kita sangat berat karena berhubungan dengan kesehatan manusia. Untuk penelitian harus dicoba dulu pada hewan. Pokoknya sangat ketat karena taruhannya nyawa,” ucap Hasan.

Dokter Spesialis Saraf Fritz Sumantri Usman menambahkan, DSA sudah digunakan sejak lama sebagai alat diagnostik. Dunia internasional pun sampai saat ini cuma menyetujui DSA sebagai alat diagnostik, bukan untuk pencegahan maupun pengobatan. Selain itu, Fritz juga menjelaskan DSA nggak bisa dilakukan pada sembarangan orang. Sebelum DSA, biasanya sudah dilakukan pengecekan dengan MRI atau CT Scan. Fritz menambahkan, DSA nggak bisa dilakukan kepada seseorang yang nggak sakit. Para dokter saraf nggak menyarankan pasien mengikuti terapi cuci otak yang metode dasarnya menggunakan DSA tersebut untuk mencegah terkena stroke atau menyembuhkan.

Related Post


, , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 2 = 1