Home

Memahami Masalah Kejiwaan Manusia Lewat Simpanse

13 July 2018 Lifestyle


Simpanse adalah hewan yang punya kedekatan sama manusia. Tapi, gagasan tentang adanya kemungkinan simpanse punya kepribadian yang sama seperti manusia sebenarnya nggak begitu populer sampai akhir tahun 1990-an. Baru akhir-akhir ini saja, diketahui kalau simpanse ternyata bisa jadi pribadi yang menyenangkan, neurotik, empatik, bahkan psikopatik karena struktur otak mereka. Temuan ini diharapkan bisa membantu kita memperoleh pemahaman lebih tentang sakit kejiwaan pada manusia. Penelitian tentang kepribadian simpanse dan struktur otak mereka digagas oleh Georgia State University di Amerika Serikat.

Idenya adalah kepribadian simpanse berkembang nggak cuma karena faktor genetik dan saraf, tetapi juga dibentuk sama faktor sosial dan budaya. Hal ini bikin simpanse jadi sampel yang tepat untuk melihat bagaimana biologi memengaruhi kepribadian. Tim peneliti melakukan penelitian dengan melihat data pencitraan otak dan kepribadian pada 191 simpanse di penangkaran. Secara spesifik, mereka berfokus pada bagaimana kepribadian dikaitkan sama dua struktur otak, amigdala dan hipokampus. Amigdala sendiri adalah bagian pada otak yang berperan dalam pengolahan reaksi emosi, sedangkan hipokampus berperan dalam proses mengingat. Hasilnya, peneliti menemukan tidak adanya korelasi antara kepribadian dan amigdala.

“Satu penjelasan yang potensial, adalah fungsi amigdala lebih penting (dalam tingkatan emosi) ketimbang pada struktur khususnya kepribadian,” ungkap Robert D. Latzman salah satu peneliti.

Tapi, peneliti menemukan sesuatu yang menarik ketika melihat adanya hubungan antara kepribadian dan hipokampus. Hipokampus yang lebih besar pada simpanse punya hubungan dengan apa yang mereka sebut tingkah laku “alpha”, sikap nggak terkontrol dan agonistik. Lalu, pada tingkatan yang lebih rendah, simpanse dengan hipokampus yang lebih besar menunjukkan sikap pemalu dan impulsif.

“Ini menggarisbawahi pentingnya hipokampus, tidak hanya dalam mengatur emosi, tetapi juga dalam fondasi neurobiologis dari dimensi disposisional yang lebih luas (seperti disposisi alpha) dan sifat-sifat kepribadian halus (seperti impulsif),” kata Latzman.

Nggak cuma pada simpanse, tingkah laku “Alpha” juga bisa dilihat pada manusia. Lebih lanjut, tingkah laku tersebut punya kaitan dengan berbagai macam kondisi kesehatan kejiwaan, sehingga temuan ini memungkinkan manusia untuk mengembangkan teknik diagnostik dan pengobatan yang lebih baik untuk penderita gangguan kejiwan pada manusia.

“Meskipun individu yang memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan kejiwaan yang sama tidak selalu menunjukkan gejala yang sama, mereka umumnya cenderung berbagi ciri-ciri kepribadian dasar yang sama,” jelas Latzman.

“Penelitian semacam ini dapat membantu para ilmuwan untuk mengembangkan intervensi yang menargetkan disposisi terkait penyakit kejiwaan,” ucap Latzman.

Related Post


, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 47 = 55