Home

New Release: Tricotado – Candu Kenangan

14 January 2019 Newsbeat


Unit Jazz Yogyakarta, Tricotado, merilis single pertama: ‘Candu Kenangan’ pada Sabtu (12/1). Karya pertama ini adalah jawab dari banyaknya pendengar musik yang tak sabar ingin mendengarkan karya media rekam mereka. Band yang berproses di Komunitas Jazz Jogja (KJJ) ini sebenarnya juga sudah lama menantikan bisa menyebarkan karya dan meramaikan atmosfer musik di Indonesia.

Cresensia Anastasia Naibaho (Vokal), Yohanes Saptanugraha (Gitar), Paulus Neo Prasetyo (Kibor), Yabes Yuniawan Sagrim (Bass), Diandra Megi Hikmawan (Kendang Sunda), dan Yosafat Windrawanto (Drum) merampungkan single ini dalam waktu singkat. Mulanya, lagu ini dibawakan di banyak panggung tanpa instrumen drum lantaran Yosafat tinggal dilain kota. “Bagi kami proses kreatif karya ini tidak menghadapi hambatan sih. Baru di Ngayogjazz lagu ini dibawakan kali pertama dengan format lengkap bareng Yosa,” beber Cresen Naibaho.

“Candu Kenangan” bertema memori. Lagu ini mewakili mereka yang punya kenangan masa kecil bersama teman dan sahabat yang tak pernah bisa hilang ketika usia membuat mereka harus hidup masing-masing. Musik dalam single ini juga jauh lebih ringan dari karya Tricotado lainnya. Paulus Neo menambahkan Cresen bisa sedikit ‘ambegan’ dalam lagu ini lantaran lagu lainnya banyak perpindahan nada. “Lagu ini lebih ‘semeleh’ dan easy listening. Sebenarnya lagu sudah selesai di akhir tahun 2018, tapi karena ini momen awal tahun jadi pas lah merilisnya,” sambung Kibordis yang akrab disapa Neo itu.

Single ini juga menjadi gerbang menuju album penuh Tricotado yang bakal rilis dalam bentuk fisik dan digital tahun 2019 ini. Ada tujuh lagu yang siap memanjakan telinga para pendengar dan pecinta musik jazz Indonesia. “Kami punya harapan besar Tricotado adalah dapat berkolaborasi dengan berbagai insane seni musik serta menyebarkan energy positif dan kreatif hingga luar Yogyakarta,” tandas Yohanes Saptanugraha.

Secara etimologi Tricotado berasal dari dua bahasa, yaitu Portugis dan Spanyol yang berarti rajutan. Sejak 2015 mereka serius menyalurkan semangat dan perspektif enam anak muda menjadi suatu musik ambiance yang energetic dan groovy. Ada balutan, pop, jazz, blues, dan irama ketukan kendang Sunda yang khas. Tricotado mampu membuat siapa pun yang mendengar lagu-lagunya ikut terbawa suasana hingga berjoget riang gembira.

Yabes menambahkan musik Tricotado berangkat dari latar belakang setiap personel yang beragam. Masing – masing personel ikut andil dalam komposisi musik Tricotado. Mereka membawa ambience musik dari (alat) musik – musik yang biasa mereka mainkan dalam kesehariannya. Penggabungan ambience tersebut yang menurut mereka menarik. “Masing – masing personel punya andil dalam proses kreatif menciptakan karya. Mereka saling merespon dalam prosesnya,” sambung Deasy, Sang Manajer band.

Selama tiga tahunTricotado sudah menciptakan beberapa lagu yang sudah cukup dikenal orang, antara lain ‘Cakrawala,’ ‘Tembang Hujan,’ dan ‘Kabut Cinta.’ Tricotado juga sudah turut meramaikan panggung seni dengan tampil di bebera pagelaran seperti Ngayogjazz, Festival Kesenian Yogyakarta, dan ArtJog 2018.

Related Post


, , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

92 − 91 =